Pemerintah Australia Minta Saran Mahasiswa Indonesia - KOMPAS.com

Written By Warok Ponoragan on Rabu, 15 Mei 2013 | Rabu, Mei 15, 2013

CANBERRA, KOMPAS.com â€" Pemerintah Australia secara resmi melalui Department of Foreign Affairs and Trade Australia (DFAT) meminta tanggapan dan saran dari Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Australia perihal Asian Century White Paper Australia untuk Indonesia. 

Setelah berdiskusi dengan rekan-rekan pengurus PPI Australia, pihak Konjen RI dan KBRI di Canberra, kami memutuskan untuk menanggapi permohonan dari Pemerintah Australia.

-- Bagus Nugroho

Menanggapi hal tersebut, Ketua PPI Australia, Bagus Nugroho, menyatakan bahwa PPIA akan memberikan tanggapan mengenai white paper tersebut.

"Setelah berdiskusi dengan rekan-rekan pengurus PPI Australia, pihak Konjen RI dan KBRI di Canberra, kami memutuskan untuk menanggapi permohonan dari Pemerintah Australia tersebut," kata Bagus, mahasiswa doktoral Teknik Mesin di Universitas Melbourne kepada koresponden Kompas di Australia L Sastra Wijaya hari Selasa (15/5/2013).

Bulan Oktober 2012 lalu, Perdana Menteri Julia Gillard telah mengeluarkan Asian Century White Paper yang berisi rencana strategis jangka panjang dan pendek Australia untuk Asia. 

White paper ini menegaskan betapa pentingnya Asia bagi Australia di masa mendatang. Rencana ini akan membawa Australia ke dalam suatu bentuk ikatan dan kerja sama yang kuat dengan Indonesia dalam bidang mulai dari perdagangan, pendidikan, budaya hingga pertahanan keamanan termasuk dengan negara India, Jepang, Korea Selatan, dan China. 

Salah satu bentuk nyata dari program ini adalah Pemerintah Australia mendorong warganya untuk belajar bahasa Indonesia sehingga hubungan tersebut tidak terhambat oleh masalah bahasa.

Bagus menjelaskan beberapa hal dan saran yang akan diberikan kepada Pemerintah Australia antara lain mendorong peningkatan perdagangan antara Indonesia dan Australia, peningkatan investasi di kedua negara, peningkatan kesadaran dan persamaan persepsi tentang pentingnya kerja sama kedua belah pihak, termasuk peningkatan kemampuan bahasa Indonesia yang nantinya diharapkan akan bisa menjadi kurikulum wajib yang diajarkan di sekolah-sekolah tingkat pertama di Australia.

Sementara itu, Ratih Maria Dhewi, Wakil Ketua PPI Australia, menambahkan bahwa peningkatan kerja sama di bidang pendidikan antarkedua negara akan mampu memberikan nilai positif.

"Dengan adanya peningkatan program-program kerja sama pendidikan, akan meningkatkan pembangunan kompetensi sumber daya manusia bagi kedua belah pihak," kata Ratih yang juga kandidat doktor pada Universitas Canberra bidang pengelolaan sumber daya manusia.

Ratih menambahkan, potensi besar kedua negara akan memberikan efek nyata bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat.

"Meningkatkan hubungan bilateral yang harmonis di antara dua negara yang bertetangga dekat tentunya harapan kita bersama," kata Ratih yang juga menjadi koordinator situs web puzzleminds.com - sharing ideas for Indonesia, sebuah situs yang menghimpun ide dan opini dari kalangan akademisi dan praktisi yang sedang menempuh studi di luar negeri, untuk Indonesia yang lebih baik.

Saat ini di Australia tidak kurang terdapat sekitar 15 ribu mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Universitas di Australia baik untuk program S-1, Pascasarjana hingga doktoral dan beberapa di antaranya sedang melakukan kajian riset tentang Indonesia-Australia.

"Kami menghimpun saran dan masukan dari seluruh anggota PPI Australia tersebut melalui cabang dan ranting kami yang ada di setiap kota dan universitas di Australia. Setelah proses penghimpunan selesai akan kami serahkan secara resmi kepada Pemerintah Australia," kata Bagus Nugroho.

Rencananya saran dan masukan ini akan diserahkan kepada Pemerintah Australia dan Pemerintah Indonesia pada akhir bulan Mei 2013 ini.     

http://internasional.kompas.com/read/2013/05/15/07040817/Pemerintah.Australia.Minta.Saran.Mahasiswa.Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar