“Pagar Hati” Selamatkan Masa Depan Anak Negeri - Jaring News

Written By Warok Ponoragan on Kamis, 16 Mei 2013 | Kamis, Mei 16, 2013

Psikolog Tika Bisono dan Chief Marketing Officcer Cross Mobilephone Janto Djojo di Crown Plaza Hotel Jakarta, Rabu, 8/5 (Jaringnews/Johannes Sutanto de Britto)

Psikolog Tika Bisono dan Chief Marketing Officcer Cross Mobilephone Janto Djojo di Crown Plaza Hotel Jakarta, Rabu, 8/5 (Jaringnews/Johannes Sutanto de Britto)

Mayoritas remaja Indonesia tidak memiliki pengertian yang cukup tentang etika dalam penggunaan smartphone.

JAKARTA, Jaringnews.com â€" Smartphone di satu sisi memberi kemudahan dan benar-benar mengerti kebutuhan para pemakainya, tetapi di sisi lain juga memberi dampak negatif pada para pengguna jika mereka tidak arif dan bijaksana dalam pemanfaatannya. Sejatinya, penggunanya lah yang seharusnya memberikan roh atau hati pada smartphone, bukan sebaliknya si pengguna yang “dirohi” dan menjadi budak teknologi karena ketergantungan tak terbatasnya pada smartphone.

Tak bisa dipungkiri, banyak kasus kriminal dan kasus-kasus negatif lainnya bermula dari smartphone. Boleh percaya boleh tidak, kasus negatif seperti video mesum yang tersebar luas, diakui dengan gampangnya menyebar melalui bluetooth dari ponsel ke ponsel. Masih jelas dalam ingatan kita, berbagai kasus yang mengorbankan kalangan remaja karena interaksi aktif dalam jejaring sosial Facebook yang diakses melalui smartphone.

Kasus video mesum sepasang remaja yang menghebohkan Banyuwangi dan tersebar hanya dalam hitungan detik melalui bluetooth dari ponsel ke ponsel hanyalah salah satu contoh betapa kelalaian kontrol atas tindakan sembrono bisa berakibat fatal. Lebih tragis lagi, makian dan hinaan di jejaring sosial Facebook dari seorang remaja berusia 18 tahun pun pernah berujung pada vonis bersalah di Pengadilan Negeri Kota Bogor pada beberapa waktu yang lalu.  Ada juga, akibat pertemanan kurang sehat di Facebook, seorang siswi SMP Kelas 2 Simo Pomahan Baru, Surabaya diperkosa Angga Krisdianto, warga Banyu Urip Menganti Gresik yang kos di Simo Pomahan 1 Surabaya.

“Mayoritas remaja Indonesia tidak memiliki pengertian yang cukup tentang etika dalam penggunaan smartphone,” keluh Chief Marketing Officcer Cross Mobilephone Janto Djojo saat menggelar konferensi pers di peluncuran Program Bundling Smarthphone CROSS dengan Indosat dan Pagar Hati di Stingray Club &Lounge, Crown Plaza Hotel Jakarta, Rabu, 8/5.

Apalagi diketahui, saat ini internet lebih banyak diakses tidak dengan PC atau Notebook, tetapi oleh smartphone. Smartphone berkembang pesat dengan pengguna mayoritasnya adalah kalangan remaja. Semakin terjangkaunya smartphone dan semakin banyaknya pilihan smartphone, memberikan dorongan besar terhadap pertumbuhan penggunaan smartphone pada masyarakat Indonesia, terutama remaja bahkan juga anak-anak. Menurut data perkembangan terbaru, kebanyakan pengakses smartphone dan internet adalah remaja berusia 10-14 dan 15-19 tahun.

“Melihat data ini, maka saya lantas berpikir jangan-jangan kita telah memberi smartphone super power pada anak kita, tetapi pada saat yang sama telah mendatangkan sesuatu yang buruk di masa yang akan datang pada mereka,” pikirnya jeli.

Janto mengakui, pemerintah pun telah berupaya memagari agar kaum remaja tidak terjerumus dalam tindakan yang buruk dengan regulasi dan peraturan. Akan tetapi, yang paling baik adalah bahwa setiap anak yang menggunakan smartphone, bahkan sejak dini sebelum menggunakan smartphone, sudah harus diberitahu bahwa mereka harus bertanggungjawab dalam penggunaannya.

"Apapun yang Anda buat secara online itu tidak akan bisa terhapus. Pasti tercatat di server. Walaupun didelete, jejak Anda ada sampai seumur hidup. Jadi, waspadalah! Setiap kita harus bertanggungjawab," tegasnya.

Ia pun menambahkan bahwa kalau orangtua mengatur anak-anaknya  jangan ini-jangan itu dengan smartphonenya, hal ini tidak mudah. Justru, yang perlu dilakukan adalah mengisinya secara positif. Smartphone perlu diisi dengan aplikasi yang positif sebanyak mungkin sehingga hal-hal yang negatif itu berkurang dengan sendirinya.

CROSS menyadari bahwa kebanyakan pengguna smartphone di usia remaja tidak bisa melihat lebih jauh mengenai batasan-batasan penggunaaan aplikasi dan dampak yang ditimbulkan. Oleh sebab itu CROSS meluncurkan Program Pagar Hati. Target utama dari Gerakan Pagar Hati ini adalah remaja, orangtua dan para guru. Ketiga komponen ini diharapkan dapat menggunakan smartphone dan aplikasi  yang terdapat di dalamnya dengan smart dan wise. Pagar Hati adalah sebuah gerakan yang mendorong penggunaan smartphone ke arah positif serta membuat pagar mental dalam hati pengguna untuk mengenali dan menghindari penggunaan smartphone pada aktivitas-aktivitas yang kurang terpuji.

“Kami sadar bahwa teknologi tidak dapat dibendung, karenanya kami berusaha mendampingi masyarakat dalam menikmati perkembangan teknologi smartphone yang kami hadirkan, dengan tetap memagari hati mereka,” tegas Janto sembari menambahkan bahwa setiap pengusaha memang sudah seharusnya memiliki tanggungjawab untuk masa depan anak negeri.

Aplikasi-aplikasi yang ditawarkan CROSS, terang Janto, relevan bagi ketiga kompenen di atas. Ketiga komponen itu bisa membuat group chat dengan teman dan guru pelajaran untuk membahas permasalahan pelajaran yang belum jelas, membuat group chat dengan orangtua dan keluarga agar bisa berkomunikasi walaupun tidak harus menelpon, membuat group chat dengan teman yang bisa di ajak berdiskusi mengenai pelajaran, membuat jadwal telepon dengan orang tua untuk memberitahukan mereka mengenai kegiatan hari ini dan lain sebagainya.

Pihak CROSS menegaskan bahwa  Gerakan Pagar Hati ini akan direalisasikan dalam bentuk radio talkshow,  seminar  roadshow di sekolah-sekolah dan follow up seminar roadshow dengan membuat accountability group psikologi dan website Pagar Hati.

“Selama kita menjual smartphone, kita akan taruh nilai ini sebagai ciri khas produk kita dan di website. Selama smartphone masih ada, kita terus lakukan. Ini bukan suatu campain yang hanya untuk 3-4 bulan lalu selesai. Ini lekat dengan produk kita,” janjinya.

“Saya senang bahwa masalah nilai mulai diangkat sebagai barang yang paling penting untuk diusung bagi pengguna produk oleh pengusaha,” tegas psikolog ternama Tika  Bisono yang berbicara sebagai pembanding pandangan dalam acara ini.

Penyalahgunaan smartphone, terangnya, tidak lepas dari kurang pahamnya remaja terhadap fungsionalitas smartphone. Antara keinginan memiliki smartphone tidak berbanding lurus dengan kebutuhan dan fungsionalitas. Maka dari itu, ia menilai bahwa Program Pagar Hati ini sangat positif bagi para pengguna smartphone.

Ia pun memuji langkah CROSS yang memasukkan unsur-unsur nilai etika dan moralitas ke dalam smartphone.  Ini berarti, CROSS merealisasikan tanggungjawabnya bagi masa depan anak negeri dengan langkah konkret yaitu memagari hal-hal negatif yang menjadi ekses teknologi.

“Saya kini dapat teman dengan program Pagar Hati ini. Saya tidak sendirian lagi.  Pengusaha pun mau melakukannya,” pungkas ibu yang memiliki anak kelas enam SD dan sering berbicara tentang ekses internet di berbagai seminar di banyak kota di Indonesia tersebut.

(Deb / Deb)

http://jaringnews.com/politik-peristiwa/umum/40389/-pagar-hati-selamatkan-masa-depan-anak-negeri

0 komentar:

Posting Komentar