Tragedi Trisakti Akan Jadi Beban Sejarah Generasi Muda - Seruu Barometer Berita Terkini

Written By Warok Ponoragan on Kamis, 16 Mei 2013 | Kamis, Mei 16, 2013

Ilustrasi (istimewa)

Jakarta, Seruu.com - Sudah 15 tahun tragedi Trisakti 12 Mei 1998 berlalu. Namun tragedi yang menewaskan empat mahasiswa Universitas Trisakti itu tak kunjung tuntas. Pemerintah seakan tidak bertindak tegas mengusut kasus tersebut.

Ketua DPN Repdem, Masinton Pasaribu, menilai, tragedi Trisakti sampai kapan pun akan menjadi beban sejarah yang tidak akan pernah tuntas jika pihak-pihak yang berkompeten tak berniat untuk menyelesaikan kasus tersebut.

"Karenanya semua pihak yang bertanggung jawab harus menyelesaikan beban sejarah itu," tegasnya dalam pesan singkat kepada Seruu.com, Selasa (14/5/2013).

Masinton pun menegaskan, ketiadaan komitmen dari pemerintah untuk menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM Berat menjadi penyebab dari mandegnya kasus dalam Tragedi Trisakti, maupun kasus lain seperti, Tragedi Semanggi I-II, Tragedi Penculikan Aktivis Pro Demokrasi, yang hingga saat ini sudah 15 tahun berjalan rakyat pun belum merasakan adanya keadilan.

"Dengan tidak adanya proses pengadilan HAM yang fair dan terbuka oleh negara, kita bisa menyaksikan bagaimana dengan mudahnya kebenaran sejarah dimanipulasi oleh orang-orang yang diduga terlibat sebagai aktor Pelanggaran HAM berat dalam berbagai tragedi kemanusiaan di Indonesia, " nilai dia.

Contohnya Wiranto dan Prabowo bersama kelompoknya yang jelas-jelas saat itu merupakan loyalis status quo orde baru Soeharto kini justru berlomba-lomba menuliskan "buku putih reformasi", mengklarifikasi tuduhan atas dugaan keterlibatan mereka dalam berbagai tragedi kemanusiaan dan pelanggaran HAM Berat.

Bahkan, ditambahkannya saat rezim militer orde baru berkuasa penuh, Wiranto dan Prabowo adalah pimpinan militer yang menampilkan diri sebagai monster yang siap menerkam tumbuhnya benih-benih demokrasi.

Kini, monster-monster itu muncul bagai pejuang kesiangan yang seakan-akan memperjuangkan demokrasi, bahkan mendirikan partai politik. Mereka memanfaatkan ruang-ruang kebebasan demokrasi untuk menyuci dosa masa lalu mereka atas berbagai kejahatan demokrasi, seperti dalam kasus pelanggaraan HAM.

Kata dia, menghilangkan nyawa orang secara paksa dengan menggunakan otoritas kekuasaan tanpa adanya pengadilan adalah kejahatan demokrasi dan merupakan pelanggaran HAM berat.

"Ini bukan persoalan dendam sejarah, kita ingin pelurusan sejarah agar ke depannya generasi yang akan datang mewarisi sejarah yang benar dan tanpa dendam, " pungkas Masinton yang saat ini menjadi Bacaleg PDIP dan maju dari daerah pemilihan DKI Jakarta II. [Simon]

DISCLAIMER

Aturan Main:
Semua isi dalam situs ini berupa teks dan segala bentuk grafis maupun video, merupakan informasi yang tidak ditujukan untuk kepentingan perdagangan saham dan / atau transaksi lainnya. Segala bentuk grafis dan teks yang di sampaikan pembaca atau pengguna adalah bukan tanggung jawab www.seruu.com. www.seruu.com tidak bertanggung jawab atas tidak tersampaikannya data / informasi yang disampaikan pembaca karena faktor kesalahan teknis.
www.seruu.com juga berhak memuat, tidak memuat, mengedit, dan / atau menghapus data / informasi yang disampaikan oleh pembaca.
www.seruu.com selalu berupaya menampilkan data dan / atau informasi seakurat mungkin. Namun, www.seruu.com dan para pengelola rubrik konsultasi, tidak bertanggung jawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data dan / atau informasi, serta kerugian yang timbul karena penggunaan data / informasi yang dimuat di www.seruu.com.

http://utama.seruu.com/read/2013/05/14/163209/tragedi-trisakti-akan-jadi-beban-sejarah-generasi-muda

0 komentar:

Posting Komentar